Wednesday, March 14, 2012

judul 13


(Filipi 1:3-11)
ucapan syukur dan doa
(3) Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.
(4) dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita.
(5) aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam berita injil mulai hari pertama sampai sekarang ini.
(6) akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.
(7) memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan berita injil.
(8) sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.
(9) dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dalam segala macam pengertian,
(10) sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,
(11) penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.

KEBAHAGIAAN DARI BALIK JERUJI BESI
By. Leidy asterina Lontaan

            Apa kira-kira yang mengingatkan kita pada seseorang? Biasanya hanya ada dua jawaban untuk pertanyaan ini. Kalau bukan karena kebaikan dan jasa-jasanya, pasti karena keburukkan dan perbuatan jahatnya. Orang-orang yang berdiri di deretan antara yang baik dengan yang jahat umumnya tidak berkesan bagi kita. Merekalah orang-orang biasa. Kita bingung bagaimana caranya untuk tetap mengingat mereka. Coba tanyakan pada pak guru dan bu guru, siapa yang terkenal di sekolah? Jawabannya pasti yang paling pintar dan yang paling dungu; yang paling alim dan yang paling badung; yang paling cantik dan ganteng serta yang dianggap jelek. Nah, yang terakhir ini harus hati-hati dibicarakan. Tidak ada orang yang senang dianggap jelek. Dan ini memang harus jauh-jauh disingkirkan dari kamus hidup orang Kristen. Kita ini segambar dan serupa dengan Allah lho. Siapa yang berani mengatakan kita jelek, berhadapan dulu dengan Yang menciptakan kita.
            Surat Paulus kepada jemaat di Filipi memberi nuansa baru kepada kita; baik kita yang terbiasa hidup dalam segala kemudahan maupun kita yang senantiasa bergumul dengan aneka persoalan hidup. Di satu sisi nampak jelas bagaimana sukacita yang dirasakan Paulus; suatu kegembiraan yang tiada tara ketika mengingat dan mengenang keteguhan iman yang telah ditunjukkan oleh jemaat Filipi. Berkali-kali ia mengungkapkan sukacita, harapan dan kerinduannya untuk bertemu dengan jemaat tersebut. Ia bangga menyaksikan iman jemaat yang tetap terpelihara dan terus bertumbuh dari waktu ke waktu.
            Jemaat Filipi rupanya mempunyai hubungan emosional yang sangat kuat dengan Paulus. Ada sesuatu yang istimewa dari jemaat Filipi ini sehingga hanya dari jemaat inilah Paulus mau menerima bantuan (4:15, 16). Betapa bangganya Paulus dengan persekutuan jemaat di Filipi ini dan betapa berkesannya jemaat ini bagi Paulus sehingga begitu besar pula kerinduannya untuk bertemu muka dengan mereka. Saya coba membayangkan bahwa Paulus waktu itu tersenyum sambil menangis terharu. Alangkah indahnya persekutuan hidup yang saling mengingat, saling mengenang, saling mendoakan dan saling merindu, seperti antara Paulus dengan jemaat Filipi ini. Kuncinya hanya satu, baik Paulus maupun jemaat Filipi masing-masing menyimpan kesan yang mendalam satu sama lain.
            Di mana pun kita pergi dan berada, kita meninggalkan kesan bagi orang-orang yang kita temui, demikian sebaliknya. Karena itu betapa pentingnya meninggalkan kesan yang baik bagi orang lain karena kesan yang kita tinggalkan itu akan membekas dalam kehidupan seseorang. Suatu saat jika orang tersebut mendengar nama kita, maka ia akan teringat pada kebaikan yang pernah kita lakukan. Jangan heran bahwa terkadang tanpa kita sadari, ada orang-orang tertentu yang senantiasa mendoakan bahkan merindukan kehadiran kita.
            Tetapi apakah ketika Paulus mengingat dan mengenang iman jemaat Filipi tersebut ia sedang ongkang-ongkang kaki di teras rumahnya sambil menikmati segelas kopi? Atau ia sedang berada di ruang kerjanya dan membaca buku hariannya bersama jemaat? Atau barangkali ia sedang rekreasi di tepi pantai sambil menikmati masa pensiun? Tidak! Khayalan kita itu sangat jauh dari kenyataan. Tidak ada masa pensiun. Tidak ada rekreasi. Tidak ada teras rumah dan segelas kopi. Yang ada hanya jeruji besi, lantai ubin yang dingin, dan ruangan yang pengap. Bilik penjara itu tanpa fasilitas apapun. Kehidupan Paulus rasanya setara dengan pendapat Kosuke Koyama, tak ada gagang pada salib. Tidak ada kemudahan. Salib itu tidak memiliki gagang yang memudahkan kita untuk memikulnya.
            Sepintas lalu, ini betul-betul ironi dalam kehidupan seorang yang telah memberitakan Injil dengan sukarela, tetapi pada akhirnya harus menjalani hidup sebagai seorang narapidana. Tidak ada orang yang ingin berada di posisi tersebut. Orang sekarang maunya mudah, yang gampang-gampang saja, yang instan, nggak pake lama, siap saji. Berbeda dengan Paulus. Seumur hidupnya, ia benar-benar telah menjadi teladan dalam hal penyangkalan diri. Ia menerima kenyataan hidupnya sebagai seorang rasul yang bekerja semata-mata untuk pekerjaan Tuhan tanpa tunjangan apapun. Ia tidak mencari kemudahan apapun. Malah dalam memberitakan Injil ia banyak mengalami penderitaan, baik fisik maupun psikis. Dalam banyak hal, ia tidak mau menjadi beban bagi orang lain.  Sungguh sebuah kehidupan yang pantas diteladani. Betapa sulitnya kini mencari orang-orang seperti Paulus. Orang-orang yang tidak mengharapkan imbalan atas pelayanannya.
             Kisah Paulus mungkin merupakan kisah tragis bagi kebanyakan orang. Ia menderita dan tertekan luar dalam. Tetapi mengapa ia bisa tetap bertahan hidup? Mengapa dalam situasi yang berat itu ia masih mampu mengucap syukur? Jawabannya ialah karena ia tidak memusatkan perhatian pada dirinya sendiri, pada penderitaan yang dialaminya. Sebaliknya, ia mengarahkan pandangannya kepada orang lain, kepada karya nyata Allah dalam kehidupan mereka. Dari Paulus-lah kita belajar bahwa karya Allah dalam kehidupan orang lain ternyata dapat mendatangkan kebahagiaan bagi kita. Sebaliknya, karya Allah dalam hidup kita, sering tanpa kita sadari, mendatangkan kebahagiaan bagi orang lain. Inilah dimensi lain dari kebahagiaan itu sendiri. Tidak selamanya kebahagiaan itu datang dari apa yang terjadi dalam hidup kita. Kehidupan orang lain pun dapat membawa kebahagiaan bagi kita asalkan kita bisa sejenak mengalihkan perhatian kita tidak melulu pada diri kita sendiri, tetapi juga pada orang-orang di sekitar kita. Dengan demikian, sinar kebahagiaan itu tidak akan pernah redup dalam kehidupan kita karena kita mampu tersenyum menyaksikan kehidupan orang lain. Benarlah kata orang bijak, kesuksesan hidup tidak ditentukan oleh seberapa bahagianya kita, melainkan seberapa bahagianya orang lain karena kehidupan kita. Sudahkah kita meninggalkan kesan yang baik bagi orang lain? Belajarlah dari jemaat Filipi dan teladanilah pola kebahagiaan Paulus. (LAL)






judul 12


(Mazmur 1:1-6)
Jalan orang benar dan jalan orang fasik
(1) Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
Yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
(2) tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
(3) Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya,
Dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
(4) Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.
(5) Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman,
begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;
(6) Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar,
Tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

ANDA PILIH YANG MANA?
By. Leidy asterina Lontaan

Memulai perenungan ini, semoga Anda tidak keberatan kalau saya mengajak kita untuk menyanyikan lagu ini: “Di dalam dunia ada dua jalan: lebar dan sempit; mana kau pilih?...” Anak-anak Sekolah Minggu paling hafal dengan lagu ini. Liriknya sederhana dan barangkali terdengar kurang menarik di telinga orang dewasa. Tetapi sesungguhnya, lagu yang mengalir dari mulut polos anak-anak ini merupakan suatu pernyataan sekaligus pertanyaan yang senantiasa diperhadapkan kepada kita. Bukan hanya anak-anak yang perlu belajar memilih jalan, orang dewasa pun kadang belum mampu menentukan jalan hidupnya, sehingga harus selalu diingatkan untuk memilih satu di antara dua jalan yang ditawarkan oleh firman Tuhan. Jalan apakah itu? Kita mungkin berebutan menjawab: Jalan orang benar dan jalan orang fasik. Kalau anda menjawab persis seperti itu, berarti anda mencontek judul yang diberikan LAI untuk Mazmur pasal 1 ini.
            Tapi tunggu dulu, kita kembali dulu pada topik perenungan kita. Berbicara tentang dua jalan, sebenarnya bukan hal yang mengejutkan lagi. Hidup-mati; kebaikan-kejahatan; keadilan-kelaliman; berkat-kutuk, dan sebagainya. Itu hal-hal yang umum. Setiap hari pun kita mendengarnya. Namun memang alangkah baiknya bila kita akhirnya terkejut setelah membaca dan merenungkan tulisan ini. Orang dewasa sering merasa mapan dengan pemikirannya, mantap dalam keputusan yang diambilnya serta bijak dalam setiap langkah yang ditempuhnya. Matangnya usia, pekerjaan yang menjanjikan, materi yang memadai, jabatan yang bergengsi, terkadang dijadikan dasar untuk merasa tidak perlu belajar lagi. Tidak perlu terkejut dengan hal-hal umum seperti itu, apalagi belajar dari lagu anak Sekolah Minggu. Malu-maluin, kata orang Jawa. Namun inilah pernyataan paling jujur sedunia. Hanya ada dua jalan. Dan kita tidak bisa menjalani kedua-duanya. Wajib pilih. Hanya satu jalan saja yang harus kita pilih. Mana kau pilih? Jawaban atas pertanyaan ini adalah keputusan yang sangat menentukan jalan hidup kita. Makna hidup sangat tergantung pada pilihan kita. Jangan sampai kita salah pilih.
            Setiap hari kita selalu diperhadapkan pada pilihan dan pengambilan keputusan. Mulai dari yang sederhana, seperti memilih pakaian yang akan kita kenakan, sampai pada pilihan yang berskala dan berdampak besar, misalnya memilih pasangan hidup. Pemazmur memperhadapkan kita pada dua pilihan besar yang terjabar dalam pilihan-pilihan sederhana setiap hari. Mana yang akan kita pilih: menjadi orang benar atau orang fasik? Pastinya tidak ada yang ingin menjadi orang fasik. Kalau yang memilih berdiri di tengah banyak. Netral, tapi suam-suam kuku. Tidak punya pendirian. Tidak ingin disebut fasik, tapi enggan menjadi orang benar. Banyak yang seperti itu, termasuk mereka yang rajin mengikuti ibadah dan aktif dalam pelayanan. Dari luar kelihatan saleh, tapi di dalam menyimpan kebusukan. Munafik. Tapi kita tentu tidak akan menghakimi orang-orang seperti itu.
 “Berbahagialah...” demikian pemazmur memulai seruannya. Seruan ini mengandung nasihat yang sarat dengan pengajaran. Pemazmur seperti berdiri di atas mimbar dan menyerukan kabar yang melegakan kepada jemaatnya. Siapa yang tidak ingin disebut berbahagia? Jujur saja, ini adalah dambaan setiap orang. Kebahagiaan malah sering dipandang segala-galanya dalam hidup. Apa sih tujuan hidup kita kalau bukan untuk meraih bahagia, demikian ungkap sebagian besar orang. Tetapi dalam bentuk apakah sebenarnya kebahagiaan yang sejati itu?
Alangkah sayangnya bila kebahagiaan itu diletakkan setara dengan hal-hal duniawi. Kekayaan. Kesuksesan. Kepintaran. Kekuasaan. Kehormatan. Tentu tidak salah memperoleh semuanya itu. Yang keliru ialah ketika hal-hal itu kita jadikan ukuran untuk sebuah kebahagiaan. Sebaliknya, sungguh tidak adil bila kehidupan yang sarat dengan persoalan lantas dijadikan patokan untuk ketidak-bahagiaan. Anda mungkin protes dengan pernyataan saya ini. Hidup dengan berbagai problema, persoalan silih berganti, kegagalan demi kegagalan, keterpurukan; apakah kehidupan yang seperti itu masih dapat dikatakan berbahagia? Tentu tidak! Demikian jawab Anda. Yang sesungguhnya, ini hanyalah masalah cara pandang.
            Hidup yang bahagia bukanlah hidup dengan memungkiri kenyataan. Sebaliknya, hidup bahagia itu adalah suatu kehidupan yang realistis. Kita mengakui kenyataan yang ada. Kita menerima setiap keadaan. Kita mengharapkan yang terbaik namun tetap bersiap untuk yang terburuk. Sangat sederhana sekaligus rumit. Mengapa? Karena realistis menurut ukuran duniawi berbeda dengan realistis-nya kita selaku umat yang mengaku percaya kepada Allah.
            Realistis secara duniawi cenderung menghasilkan pandangan yang sempit. Ketika gagal, orang tidak mau berusaha lagi. Ia berpikir bahwa hanya sebatas itulah kemampuannya. Ia tidak berani untuk mencoba karena menganggap kegagalannya sebagai realitas paten yang tidak bisa diubah. Ini semua nasib, tidak ada gunanya melawan, lebih baik pasrah saja. Jelas ini bukan pandangan yang alkitabiah. Realistis secara duniawi juga dapat menjebak orang pada perilaku hidup yang buruk tanpa merasa bersalah. It’s me. Inilah aku. Aku adalah aku. 
Berbicara tentang kebahagiaan, pandangan setiap orang pasti berbeda-beda. Ukuran kebahagiaan itu pun beragam. Ada yang melihat kebahagiaan berasal dari gemerlapnya harta. Ada yang memahami kebahagiaan sebagai kesuksesan meraih impian. Dan ada pula yang menghayati kebahagiaan ketika berada dalam situasi yang nyaman dan melegakan. Pemazmur sendiri memandang kebahagiaan itu dari sudut pandang yang berbeda. Bagi pemazmur, orang-orang yang dikatakan berbahagia ialah orang-orang yang berani melawan arus; bergaul dengan orang-orang berkelakuan buruk tetapi tidak ikut berperilaku buruk. Ikan yang hidup di air asin saja tidak ikut menjadi asin. Harus punya pendirian. Harus punya prinsip agar tidak ikut-ikutan, iko rame, kata orang Manado.
Lalu apa dasar dari pendirian kita? Tidak salah lagi, firman Tuhan! Taurat Tuhan, menurut bahasa pemazmur. Prinsip hidup itu kita dapat dari merenungkan firman Tuhan siang dan malam. Apa artinya ini? Bukan membaca Alkitab secara maraton dari pagi buta sampai malam bisu. Bukan pula membaca Alkitab seperti tukang ojek mengejar setoran, hari ini saya harus selesai membaca Kejadian sampai Maleakhi. Titik. Jangankan sampai Maleakhi, masih di Imamat saja Anda mungkin sudah bosan. Belum lagi selesai Tawarikh, Anda sudah garuk-garuk kepala dengan muka berkerut. Hasilnya, Anda kecapean sendiri. Ngos-ngosan.
Membaca Alkitab tidak perlu buru-buru. Kita tidak sedang syuting film streeping yang kejar tayang. Tuhan juga tidak menetapkan deadline untuk hal yang satu ini. Yang terpenting ialah, apakah kita mendapatkan sesuatu dari bagian Alkitab yang kita baca dan renungkan atau tidak. Dan apakah yang kita dapatkan itu benar-benar membuat kita menjadi lebih baik dari hari ke hari, atau justru tidak berpengaruh apa-apa dalam hidup kita. Ini yang patut dipertanyakan. Jangan-jangan mutiara itu sudah dilemparkan kepada babi. Saya tidak memaki. Ini kenyataan. Firman Tuhan adalah seperti mutiara yang berharga. Apa artinya jika hal berharga ini justru tidak berpengaruh apa-apa dalam kehidupan kita? Tidak ada gunanya. Useless.
Merenungkan firman Tuhan siang dan malam semestinya membuat kita menjadi lebih bijak, baik dalam pemikiran maupun dalam sikap dan tingkah laku kita. Itulah sebabnya begitu indah gambaran yang dipakai pemazmur, “Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Inilah kunci keberhasilan, tetapi juga kunci kebahagiaan. Orang fasik tidak akan mengalami hal seperti ini. Jalan yang mereka tempuh bermuara pada kebinasaan. Sangat kontras. Demikianlah perbedaan antara orang benar dan orang fasik.
Kalau demikian, Anda pilih yang mana? Jalan hidup kita akan ditentukan berangkat dari jawaban kita atas pertanyaan ini. Tentu saja kita bebas memilih. Kebahagiaan itu adalah pilihan dan kebahagiaan kita terletak di tangan kita sendiri. Kini saatnya mengambil keputusan. Waktu anda tidak banyak. Sadarilah kenyataan ini dan terkejutlah: Hidup ini singkat! Tapi justru dalam hidup yang singkat inilah kita menentukan jalan yang akan kita tempuh selamanya. (LAL)





Bukan membaca Alkitab secara maraton dari pagi buta sampai malam bisu. Bukan pula membaca Alkitab seperti tukang ojek mengejar setoran, hari ini saya harus selesai membaca Kejadian sampai Maleakhi. Titik. (LAL)

judul 11


“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicelah dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu”. Matius 5:11-12.

AH, YANG BENAR SAJA, TUHAN!
By. Leidy Asterina Lontaan

            Ucapan bahagia yang terakhir ini mungkin paling tidak masuk akal. Orang yang berpikir rasional pasti menganggap ini ucapan dari seorang yang tidak waras. Bagaimana mungkin orang yang menderita ter-aniaya dapat disebut berbahagia? Ini sungguh berlawanan dengan akal sehat. Lalu bagaimana reaksi Anda ketika membaca ayat ini? Apakah Anda langsung berteriak, “Bodoh!” atau Anda geleng-geleng kepala, “Yang benar saja, Tuhan!” Anda tidak percaya? Tapi ini memang benar. Mari kita membuat ini menjadi masuk akal. 
                Menurut Anda, manakah yang lebih membanggakan: memperoleh sesuatu dengan kerja keras atau dengan jalan pintas? Kalau Anda menjawab: dengan kerja keras, berarti Anda adalah orang yang berpikir secara masuk akal. Selanjutnya, pengalaman manakah yang menurut Anda lebih berkesan: ketika Anda berhasil melewati suatu keadaan dengan susah payah atau di saat Anda menjalani peristiwa-peristiwa ringan yang biasa? Kalau Anda memilih jawaban yang pertama, berarti jalan pikiran Anda memang sangat masuk di akal. Satu pertanyaan lagi, Anda pilih yang mana: bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, atau sebaliknya? Untuk pertanyaan  yang terakhir ini, pasti menimbulkan jawaban yang beragam, tergantung dari sudut mana ia dipandang. Seorang pelajar yang akan mengisi kertas ujian selalu diperhadapkan dengan pertanyaan semacam ini. Apakah ia akan menjawab soal-soal yang mudah terlebih dahulu, atau ia akan mulai menjawab dari yang paling sulit, baru kemudian menjawab yang mudah. Untuk setiap jawaban atas pertanyaan ini memiliki alasannya sendiri. Tetapi kalau bicara tentang perjuangan hidup, saya rasa banyak yang akan memilih jawaban yang pertama, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
                Inilah yang menjadi penghiburan bagi mereka yang disapa berbahagia di ayat 11. Siapa pun tahu betapa sulitnya melewati situasi yang demikian; dicela, dianiaya dan difitnah. Tetapi Yesus memang sangat jujur dan terbuka. Ia tidak datang untuk membuat hidup ini menjadi lebih mudah. Karena itu Ia tidak mengiming-imingi orang dengan janji yang muluk-muluk. Secara terang-terangan Ia mengatakan kepada mereka bahwa penganiayaan dan penderitaan merupakan konsekuensi ketaatan mereka kepada-Nya. Orang-orang yang mendengarkan pengajaran Yesus ini mungkin diam-diam berkata dalam hati, “Yang benar saja, Tuhan! Sesulit itukah mengikut Engkau?”, tapi tidak ada yang berani bersuara apalagi protes. Dan, tunggu dulu, Yesus mengatakan “berbahagialah” untuk hal-hal yang sungguh tidak menyenangkan itu? “Ah, yang benar saja, Tuhan!
                Apakah kita masih penasaran dengan hal ini? Atau kita mungkin sudah berkali-kali membaca ayat-ayat yang senada dengan itu? Lalu apa yang kita lakukan? Membaca sepintas, menghayati sejenak lalu menutup Alkitab dan melupakan ‘hal bodoh’ tersebut? Saya pun awalnya demikian. Kurang peduli. Acuh tak acuh. Masa bodoh. Namun inilah saatnya untuk siuman. Jangan menunggu sampai via dolorosa itu ada di depan mata baru kita tersadar. Kita perlu menyiapkan diri agar di saat penderitaan itu menyapa kita, kita tidak akan terkejut. Yesus sudah mengatakan hal itu sebelumnya.
                Tinggallah satu pertanyaan lagi yang begitu mengusik hati saya. Saya yakin Anda pun sempat bertanya seperti itu. Apakah kita betul-betul siap untuk mati bagi Kristus? Beranikah Anda menjawab “Ya!” dengan suara lantang? Kalau benar begitu jawaban Anda, saya merasa perlu meragukannya, sama halnya dengan saya meragukan jawaban tersebut dalam diri saya sendiri, “Yang benar saja!”. Coba seandainya kita ada di posisi orang-orang Kristen pada abad pertama Masehi. Mereka mengalami penderitaan yang sangat berat; dilemparkan ke kandang singa, dibakar hidup-hidup, disayat dengan pisau, disiram dengan air panas, serta bentuk-bentuk penyiksaan lainnya. Bahkan kaisar Nero pernah membungkus hidup-hidup orang Kristen di suatu liang dan kemudian menyalakan liang tersebut. Ia pernah juga mengikat orang-orang Kristen pada binatang-binatang buas, lalu melepaskan anjing-anjing pemburunya untuk mencabik-cabik orang-orang tersebut sampai mati. Bayangkan jika itu terjadi pada kita. Siapkah kita menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk semacam itu? Hingga saat ini saya pun masih terus bertanya-tanya.
Sementara kita bergumul untuk memantapkan kesiapan kita, pernyataan Tertulianus yang berikut kiranya menjadi bahan perenungan kita pula: Jika seorang Kristen tiba kepada sesuatu pemilihan antara kesetiaan dan hidup, maka orang Kristen yang sejati tidak pernah enggan dan segan untuk memilih kesetiaan. Kesetiaan memang mahal harganya. Nyawa kita terkadang menjadi taruhannya. Namun inilah penghiburan bagi kita yang memilih untuk tetap setia: “upahmu besar di sorga...” Karena itu, seru Yesus,  “bersukacita dan bergembiralah!” Upah kita tidak akan diterima di dunia ini, melainkan di kehidupan yang akan datang. Anda keberatan? Tidak mengapa. Wajar. Toh pilihan ada di tangan kita. Kitalah yang akan menentukan apakah kita akan berinvestasi untuk hidup kekal nanti, atau justru tersenyum sinis, “yang benar saja, Tuhan! Saya maunya sekarang. Hidup cuma sekali. Masakan tidak saya manfaatkan untuk senang-senang!” Begitukah pandangan anda? Sekali lagi tidak mengapa. Semua kembali kepada anda.
                Tetapi ingat baik-baik. Kahlil Gibran pun pernah berkata bahwa orang yang tidak pernah merasakan penderitaan tidak akan dapat mengecap kebahagiaan. Justru penderitaan itulah jalan menuju kepada kebahagiaan. Sebagai orang Kristen, pengalaman penderitaan merupakan suatu kesempatan berharga untuk menunjukkan kesetiaan kita kepada Kristus. Menderita untuk sebuah kebenaran adalah menderita secara terhormat. Karena itu mengalami hidup dalam penderitaan sesungguhnya merupakan keikut-sertaan dalam sebuah peristiwa besar yang mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan yang tiada tara. Silakan bertanya kepada para pendaki gunung bagaimana perasaan mereka saat berhasil menaklukkan puncak gunung. Pasti tidak biasa-biasa saja. Ada kegembiraan dan kebanggaan tersendiri.
                Seperti itulah sukacita dan kegembiraan Kristen. Sebuah kebahagiaan yang khas karena kita berbahagia di tengah penderitaan dan kesulitan hidup. Kita tidak berbahagia karena penderitaan itu sendiri. Kita berbahagia karena pengalaman hidup menderita itu membuat kita lebih dekat kepada penyertaan Kristus yang sejati. Kita berbahagia karena kita telah turut ambil bagian dalam penderitaan yang pernah dialami oleh berjuta-juta orang yang sekuat tenaga  mempertahankan imannya sampai titik darah penghabisan. Kita berbahagia karena kita sadar bahwa inilah jalan salib yang pernah ditempuh Yesus. Berat dan sukar memang. Tapi di ujung perjalanan ini, kemenangan itu menanti kita. Pasti. “Yang benar saja, Tuhan!” Ya, ini memang benar. Saya harap anda puas dengan jawaban ini dan berhenti bertanya. Kini anda tahu apa yang akan anda pilih sebagai orang Kristen yang sejati. (LAL)









“Kahlil Gibran pun pernah berkata bahwa orang yang tidak pernah merasakan penderitaan tidak akan dapat mengecap kebahagiaan. Justru penderitaan itulah jalan menuju kepada kebahagiaan”(LAL)

judul 10


“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya kerajaan sorga” Matius 5:10

KEBAHAGIAAN DI BALIK PENGANIAYAAN
By. Frany P Kuron

Banyak orang mungkin sering bertanya, bagaimana kehidupan yang berbahagiaitu? Ketika kita tanyakan kepada seorang pemain sepak bola profesional, dia pasti akan menjawab ketika mencetak gol, dan timnya memenangkan suatu pertandingan besar. Bagaimana dengan jawaban seorang mahasiswa? Dia akan menjawab ketika lulus ujian dan menjadi seorang sarjana. Lalu ketika ditanyakan pada seorang ibu, bisa jadi dia akan menjawab ketika melihat anak-anaknya sukses dalam hidup. Jawaban-jawaban ini mengaitkan kehidupan yang berbahagia dengan situasi yang dialami. Keadaan yang menyenangkan, bersukacita, beruntung, perasaan senang, tenteram, bebas dari segala yang menyusahkan bermuara pada kebahagiaan seseorang.
Yesus berkata, ”berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Dianiaya adalah suatu keadaan yang bertolak belakang dengan keadaaan bahagia. Bagaimana mungkin orang yang dianiaya dapat berbahagia? Apakah keadaan dianiaya bisa dikatakan “kehidupan yang berbahagia”? tidak mungkin-lah! Ucapan yang sangat aneh. Masakan berbahagia padahal berada dalam keadaan dianiaya.
Ucapan yang aneh memang; kalau diteropong dari sudut pandang dunia. Tapi marilah kita mencari tahu maksud ucapan Yesus ini. Pada zaman dahulu; orang-orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran adalah orang-orang yang dikasihi Allah. Mari kita membaca kesaksian 1 Petrus 3:14, “tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia…”. Dikasihi Allah karena berada dalam kebenaran; berada pada jalan hidup yang benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Namun, sikap dunia seringkali tidak bersahabat terhadap orang-orang yang berpegang pada kebenaran. Orang benar cenderung dimusuhi oleh dunia; sehingga banyak orang tidak mau menjadi orang benar karena tidak mau menderita di dalam dunia.
Yesus sendiri mencontohkan mengenai penderitaan ketika berpegang pada kebenaran. Yesus yang tanpa dosa harus mati; bahkan dengan cara disalibkan. Hukuman salib merupakan hukuman yang diberikan kepada penjahat-penjahat kelas berat pada zaman itu. Contoh lain; pergumulan yang dialami oleh umat percaya pada abad mula-mula. Banyak penganiayaan yang mereka hadapi ketika harus mempertahankan iman kepercayaan dan berusaha hidup dalam kebenaran. Namun toh, kekristenan malah semakin meluas dan nama Tuhan semakin ditinggikan. Semakin dibabat, eh, malah semakin merambat.
Jelaslah bahwa orang yang hidup dalam kebenaran pasti memperoleh tuntunan Allah. Dunia memang memusuhi orang benar tapi Tuhan mengasihi orang benar. Jadi, mana yang kita pilih: bersahabat dengan dunia atau bersahabat dengan Allah? Bersahabat dengan Allah tentunya! Bagus. Tapi bersahabat dengan Allah ada harganya, Menderita!
Marilah kita merenung sejenak. Bagaimana jadinya kepercayaan kita jika Yesus tidak menderita dan mati? Apakah Dia akan bangkit? Jika itu terjadi, maka kata Paulus, sia-sialah pemberitaannya dan kepercayaan kita, “tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu”. Dan Bagaimana jadinya jika gereja mula-mula tidak menderita melainkan hidup dalam banyak kenyamanan dunia? Apakah kekristenan kita akan seperti sekarang ini ataukah sudah mati?
Kebahagiaan yang dirasakan karena suatu keadaan yang berbahagia bisa jadi merupakan kebahagiaan yang lekang oleh waktu; seperti pelangi sehabis hujan yang hanya akan menunjukkan keindahannya dalam waktu singkat kemudian hilang. Kebahagiaan seperti ini selalu dibayang-bayangi oleh pergumulan dan tantangan kehidupan. Maksudnya, dibalik indahnya kebahagiaan karena umur panjang terdapat pahitnya kehidupan untuk mengejar cita dan harapan. Dibalik manisnya cinta terdapat sakitnya putus cinta. Maksud saya, bisa jadi kebahagiaan dalam dunia adalah awal pergumulan dari manusia. kebahagiaan ketika lulus kuliah menjadi sarjana merupakan awal dari pergumulan mencari pekerjaan, bergumul dengan kesibukan untuk mempersiapkan masa depan. Kebahagiaan karena kelahiran anak yang pertama adalah awal dari pergumulan untuk mendidik dan merawat sang anak untuk menjadi lebih baik. Kebahagiaan hanyalah bumbu dalam kehidupan manusia. Kebahagiaan itu datang lalu kembali pergi meninggalkan kita dengan pergumulan hidup yang baru. Jelaslah semua manusia selalu berada dalam penderitaan dan pergumulan, tidak bisa lari, menghindar atau bersembunyi!
Akhirnya, kehidupan yang berbahagia adalah kehidupan yang berpegang dalam kebenaran dan selalu melaksanakan kehendak Tuhan dengan hati yang tulus walaupun berada dalam pergumulan dan tantangan kehidupan. (FPK)






 







“Orang benar cenderung dimusuhi  dunia; sehingga banyak orang tidak mau menjadi orang benar karena tidak mau menderita di dalam dunia” (FPK)